Ini Dia Kejanggalan Kasus Mirna yang Menjadikan Jessica KW Tersangka


Lensa Globe - Kasus kopi maut Wayan Mirna Salihin memang sudah diketahui siapa pelakunya. Meskipun begitu, bukan hal yang mudah buat pihak penyidik buat menetapkan Jessica Kumala Wongso sebagai tersangka. Wayan Mirna Salihin diketahui meninggal setelah menenggak kopi es kopi Vietnam di kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta Pusat pada 6 Januari 2016.
Direktur Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti mengatakan Jessica Kumala Wongso terancam dijerat dengan Pasal 340 Kitab Undang-undang Hukum Pidana tentang pembunuhan berencana. “Tapi dia berhak didampingi kuasa hukumnya, kalau dia tidak punya pun akan kami sediakan,” ujar Krishna di kantornya, Sabtu, 30 Januari 2016.
Karena kasus ini sangat menarik, oleh karena itu admin ingin memposting artikel ini. Berikut ada 8 kejanggalan dalam kasus kopi maut Mirna yang membawa Jessica Wongso jadi tersangka.
1. Datang Lebih Dulu
Jessica Wongso mengaku tiba lebih dahu di Kafe Olivier, Grand Indonesia, Jakarta Pusat, pada Rabu, 6 Januari 2016 pukul 14.00 WIB. Padahal Jessica janji bertemu dengan tiga temannya Mirna, Hani dan Vera pada 17.00 WIB. Kepada polisi, Jessica mengaku datang lebih awal guna menghindari three in one. Sementara versi polisi, Jessica mengaku tiba pada pukul 16.00 WIB. Jubir Kepolisian Resor Jakarta Pusat, Suyatno berujar, Rabu sekitar jam 4 sore, Jessica memesan 3 jenis minuman yakni cocktail, dan fashioned sazerac buat dirinya dan Hani serta es kopi Vietnam buat Mirna.
Usai minum, Mirna mengatakan, “It’s awful, it’s bad.” Hani mengatakan, “Minumannya ada apa-apanya kali.” Mirna merasa kepanasan. Ia mengibasan kedua tangan di lehernya. Hani memanggil pelayan. Seorang pria berjas hitam menghampiri.
Seorang pelayan mengambil gelas-gelas kopi di atas meja. Meja digeser dan pelayan berjas hitam duduk di kursi Jessica. Jessica berdiri di sampingnya. “Apakah anda keluarganya?” tanya pelayan kafe. Hani menjawab Mirna sudah berkeluarga. Lalu ia berinisiatif menelepon suami Mirna. Mulut Mirna mulai berbusa. Pelayan mengambil tisu dan menutup mulut Mirna. Ia menyuruh pelayan lain mengambil kursi roda.
Mirna dibopong ketiga pelayan ke atas kursi roda. Mereka membawanya ke klinik bersama dan kedua teman Mirna ikut bersamanya.
Jessica lewat pengacaranya, Yudi Wibowo Sukitno, menyatakan, bukan dirinya yang memilih tempat dan minuman saat bertemu Mirna. Jessica yang saat itu berkomunikasi dengan Mirna melalui WhatsApp diminta Mirna memesankan kopi es Vietnam.
Karena berniat mentraktir, Jessica berinisiatif langsung membayar pesanan mereka. “Mirna yang minta dipesankan lewat WhatsApp.”
2. Tas Belanja di Atas Meja
Sebelum tiba di Kafe Olivier, Jessica mengaku berkeliling mal dan membeli tiga bingkisan berisi sabun sebagai oleh-oleh bagi ketiga temannya itu. Di Kafe Olivier, Jessica menunggu Hani dan Mirna di meja nomor 54. Kantong belanjaan berisi sabun tersebut diletakkan oleh Jessica di atas meja.
Aksi Jessica meletakkan tas belanjaan di atas meja menimbulkan kecurigaan. Komisioner Komisi Kepolisian Nasional Edi Saputra Hasibuan mengaku melihat cuplikan rekaman CCTV Kafe Olivier saat kematian Wayan. Edi berkata gerak gerik Jessica Kumala Wongso yang berada di tempat kejadian terlihat jelas.
“Sempat saya lihat dia mencoba memindahkan gelas, tapi tak terlihat dia memasukkan sesuatu ke gelas itu,” kata Edi, Sabtu, 26 Januari 2016. Edi mengatakan posisi CCTV itu jauh dari meja tempat Mirna, Jessica dan seorang lagi bernama Hani duduk.
“Tangannya terhalang tas, terlihat dia memindahkan gelas saja. Saya tak lihat yang lain,” kata dia. Edi mengatakan bahwa CCTV ini merupakan salah satu satu bukti kuat yang dimiliki polisi, selain temuan seperti cairan kopi dan bukti fisik lainnya di lokasi.
“Intinya polisi sudah mantap dengan bukti yang mereka miliki, jadi tak boleh salah, apalagi setelah penetapan tersangka,” kata Edi. Edi jika juga sempat menceritakan bagaimana tingkah Jessica saat masuk ke lokasi, sesuai apa yang dia lihat dari rekaman CCTV tersebut.
“Terlihat bagaimana cara Jessica memesan kopi. Wajahnya sempat memandang kesana kemari, seperti mengamati sesuatu.”
3. Tolak Mencicipi
Jessica menolak mencicipi kopi yang belakangan terbukti bercampur racun sianida yang menewaskan Mirna. Saat itu Mirna menhirup kopi dan merasa tenggorokanya seperti terbakar. “Mirna minta diambilkan air mineral,” kata Jessica.
Saat Jessica mengambil air mineral ternyata Hani ikut mencicipi kopi itu. “Saat kejadian saya enggak tahu kalau Hani ikut nyobain.” Jessica mengetahui bahwa Hani ikut mencicipi kopi beracun itu saat prarekonstruksi. Jessica mengaku sempat diminta Mirna mencoba kopinya.
“Saya enggak mau, karena punya penyakit maag dan lambung. Apalagi saat nuangin kopinya, pelayannya bilang, kopinya strong banget,” kata dia. “Jadi saya hanya nyium saja. Takut enggak kuat karena dibilang strong itu kopinya.”
Komisaris Besar Krishna Murti mengatakan, sianida yang masuk ke dalam kopi Mirna antara 3-5 gram. “Segitu saja bisa mematikan orang dalam waktu 5-20 menit, kalau 15 gram sianida bisa mematikan 20 orang,” ujarnya. Menurut Krishna, sianida masuk ke dalam kopi Mirna saat di lokasi. “Kopi di kafe itu siapa yang membuat? Kecil kemungkinan dibuat kafe itu.”
Krishna mengungkapkan saksi Hani hanya menyicipi sedikit kopi yang dipesan Mirna. Hani adalah saksi sekaligus teman Wayan Mirna Salihin yang ikut berkumpul di Olivier, Grand Indonesia. “Nyicip itu, bukan disedot ya, kalo diseruput ya mati, itu dijilat, kemudian dilepeh lagi,” ujar Khrisna. “Bukan ditelen dong, kalo nelen ya mati dan yang nelen cuma Mirna,” ujar Khrisna.
4. Buang Celana Jins
Penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Kepolisian Daerah Metro Jaya mencari celana yang dibuang oleh asisten rumah tangga Jessica Kumala Wongso. Celana jins itu dipakai Jessica saat bertemu Mirna di Kafe Olivier. Celana itu diduga dapat menjadi bukti memgungkap kasus kemarian Mirna setelah meminum kopi Vietnam yang tercampur racun di kafe tersebut.
“Ada keterangan salah satu saksi yang mengatakan bahwa yang bersangkutan membuang celana (Jessica),” kata Krishna di kantornya, Rabu, 20 Januari 2016. Kemudian, penggeledahan sepekan lalu di rumah Jessica di daerah Sunter, Jakarta Utara. Namun penyidik tak menemukan celana itu. “Kami cari ke tempat sampah sampai ke pol sampah tidak ketemu sampai sekarang,” ujarnya.
5. Misteri Air Mineral
Darmawan Salihin, ayah Mirna, merasa dibohongi oleh Jessica. Pasalnya, saat bertemu Jessica dan mendengar keterangan Jessica untuk pertama kali terkait kejadian 6 Januari lalu, Jessica mengaku hanya memesan air mineral.
Namun ternyata Darmawan mendapati bukti ia memesan minuman coctail. “Dia bohong sama saya, dia bilang cuma pesan air putih, nyatanya dia pesan coctail,” ujarnya.
Terkait hal tersebut, Komisaris Besar Krishna Murti mengatakan, pada berita acara pemeriksaan (BAP) milik Jessica, sejak awal ia mengakui memesan cocktail. Tetapi dalam BAP ayah Mirna, Darmawan mendapat keterangan Jessica memesan minuman air mineral.
“Kalau dari BAP, bapaknya mendengar Jessica meminum air mineral. Kalau di BAP jessica dia minum cocktail. Sementara BAP saksi semua menyebutkan cocktail,” ujar Krishna.
6. Depresi tapi Tenang
Ahli hipnoterapi, Kirdi Putra, berpendapat ketenangan Jessica saat memberi keterangan di media bertentangan dengan keluhannya saat menemui anggota Komnas HAM. “Dia mengaku depresi dan tertekan, namun sikapnya semakin tenang, jawabannya pun diulang terus menerus,” ujar Kirdi, yang sempat dimintai bantuan polisi dalam pemeriksaan saksi terkait kematian Mirna.
Dari pengamatan Kirdi, tidak ada indikasi depresi atau keadaan tertekan yang terlihat pada Jessica. “Meski dia orang yang tenang sekalipun, depresi harusnya bisa terlihat dengan bahasa tubuh, gestur, postur, ekspresi wajah, dan intonasi suaranya,” kata Kirdi. Alhasil, Kirdi mengatakan bahwa pernyataan Jessica tak sinkron dengan sikapnya yang sangat tenang.
Kata Kirdi, kejanggalan ini tak lantas memberi kesan bahwa Jessica bersalah atau memiliki keterlibatam penting dalam kasus tersebut. “Tapi sekaligus memberi kesan bahwa belum tentu dia tidak bersalah,” kata dia. Kedatangan Jessica ke Komnas HAM, menurut Kirdi, lebih memperlihatkan reaksi Jessica terhadap pemberitaan yang muncul terkait tudibngan terhadap dirinya.
7. Tak Panik
Ahli hipnoterapi Dewi P. Faeni mengatakan ada yang mencurigakan pada perilaku Jessica Wongso, teman ngopi Wayan Mirna Salihin, yang tewas di kafe Olivier. Meski dituduh sebagai pembunuh temannya, Jessica tampak tenang dan tak terusik. “Ia bahkan menikmati,” katanya dalam diskusi di Warung Daun, Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu, 30 Januari 2016.
Dewi mengatakan mata bisa menunjukkan orang sedang berbohong. Jadi, saat berdialog, kontak mata sangat penting. “Saat diwawancara, eye movement-nya sangat cepat,” ujarnya. Artinya, ada kegelisahan yang besar. Dewi menjelaskan, saat mata melirik ke sudut kanan atas, itu menunjukkan ia sedang berbohong. Sedangkan jika melihat ke sudut kiri atas, ia sedang mengingat data.
Dewi tak melihat kegelisahan di mata Jessica. Ada kemungkinan Jessica mulai terbiasa dengan pertanyaan itu-itu saja. Dewi melihat Jessica mulai tidak konsisten dalam jawabannya saat mata Jessica tak setegas saat pertama kali diperiksa. “Mungkin sudah dilatih karena sudah tiga minggu. Jadi terbiasa,” ucapnya. Ia mengatakan pemeriksaan ini biasanya akurat hingga 62 persen.
8. Tak Berempati
Psikiater Syailendra menilai ada dua kemungkinan dari sikap Jessica yang selalu tampak tenang di depan media. Pertama karena dia memang bukan pembunuh Mirna, kedua karena dia terbiasa membunuh. “Jessica butuh tes kejiwaan,” kata dia.
Ia mengatakan, tes kejiwaan sangat penting dilakukan untuk memastikan pelaku memiliki gangguan jiwa atau tidak. Sebab, kata dia, ini merupakan bentuk pemeriksaan komprehensif.
Syailendra tak bisa memastikan apakah Jessica seorang psikopat. Dalam menentukan dia psikopat atau tidak, perlu dilakukan pemeriksaan yang mendalam. “Tidak bisa berandai-andai melalui pengamatan,” ucap dia. Meski demikian, ia bisa memastikan satu hal. Seorang psikopat memiliki sifat yang tak bertanggung jawab. Tidak memiliki empati, serta biasa melakukan kejahatan berulang-ulang.
Pakar hipnoterapi Dewi P Faeni mengatakan, saat orang kehilangan, seharusnya ia bersedih dan berempati. Sebagai teman dekat Mirna, ia tak melihat hal tersebut di mata Jessica. “Tapi saya tidak melihat adan empat dari orang ini (Jessica),” katanya.
sumber : google.com ;  lensaglobe.com ; 17 September 2016
Previous
Next Post »

Aturan untuk berkomentar bagi para blogger sejati:
1. Jangan berkomentar yang mengandung unsur SARA, pornografi atau hal-hal diskriminatif
2. gunakan bahasa yang baik yah
3. Komentar SPAM otomatis akan terhapus EmoticonEmoticon

Pasang Iklan lensaglobe.com